Our social:

Minggu, 08 September 2013

PENATALAKSANAAN HIPERTENSI EMERGENCY



Severe hipertensi dengan hipertency emergency. Bagaimana dikatakan hipertency emergency yang lebih dari 220 dan beberapa yang ada 240 mmHg. Kelompok yang disebut hipertensi krisis meliputi severe dan emergency. Terjadi peningkatan sangat tinggi dari 0,5% dari hipertensi di tahun-tahun diagnosis awal pasien tersebut. Pembicaraan menarik dari DR. dr. Haerani Rasyid, M.Kes, KGH, SpGK yaitu dosen FK Universitas Hasanuddin.   

Ancaman kegawatan dari hipertensi tersebut selalu membayang-bayangi. Sebagaimana penggunaan kafein dan amfetamin yang tak sesuai. Hipertensi yang berbahaya tersebut dapat terpilih hipertensi emergency menggunakan obat parenteral kondisi ini dianamakan darurat. Pemilihan yang tepat sangat menolong dalam kondisi tersebut.

Berdasarkan guideline yang ada berdasarkan penelitian-penelitian tersebut seperti nicardipin yang memiliki kemampuan tersebut. Pada pendiagnosisan yang perlu mengalami hipertensi dalam keteraturan. Nicardipin ini bekerja pada penurunan perifer yang memiliki kemampuan tersebut. Obat intravena untuk pasien kritis dalam bentuk microdrip dosis tertentu. Dalam panduan memberikan obat ini dalam 48 jam target 20 sd 25% dari MAP. Setelah 6 jam boleh 160/90mmHg. Sehingga panduan selanjutnya boleh diturunkan lagi asalkan jangan sampai ada iskemik dari target organ tersebut.

Penggunaan obat tersebut memiliki dosis panduan dalam bentuk syringe pump atau bolus. Pemberian efek berhati-hati pada rebound fenomena, namun hampir tidak pernah ada melaporkan hal negatif tersebut. Ternyata dalam pelaksanaannya tidak harus berada di intensive care.  

  Stabilisasi antihipertensi efek dari diltiazem.
Presipitasi dari timbulnya hipertensi krisis adalah pada kondisi khusus yang menjadi kemungkinan hipertensi emergency dari kemampuan autoregulasi dari homeostatis tubuh yang tak sanggup lagi ditangani tubuh. Paling umum terjadi adanya sakit kepala berat namun nonspesifik ataupun nyeri dada yang tidak spesifik. Dibandingkan obat-obat yang ada nicardipin. Sesuai guideline CHEST 2007. Bagaimana nicardipin sebagai pengantar bekerja pada perifer resistensi yang membuat suatu keunggulan dari nicardipin itu sendiri.
Pada prevensi untuk adekuat managemen yang baik lebih baik dibandingkan pengobatan.



Bagaimana post aneurysma yang memiliki standar patokan untuk dipelihara tensinya berkisar ?
Umumnya aneurysma itu adalah memiliki faktor genetik sejak kecil. Sangat dipengaruhi fungsi cerebral yang labil. Tekanan darah itu memiliki kontrol sebanyak 24 jam.  Memiliki fase fluktuasi memberi pola yang bervariasi.

Bagaimana dengan kasus-kasus hipertensi dengan hemodialisis rutin misalnya ?
Bedakan dulu kronik atau emergency. Namun nicardipin bukan rutin, namun disesuaikan dengan waktu. Hingga obat oral dapat diberikan. Apakah guideline sudah pas ?
Pada gagal ginjal terminal adanya aldosteron yang rusak sehingga resiko meningkat. Sehingga diberikan antagonis aldosteron. Dalam hal ini penggunaan spironolakton pada gagal ginjal saat ini.

Beberapa penelitian dari kognitif terapi yang memiliki relaksasi dari suasana hemodialisis menjadikan terapi seperti terapi musik, kerohanian, dan sebagainya.  

Pada hipertensi yang tinggi kronik diturunkan dalam tahapan setidaknya dalam 2 minggu tidak diperkenankan langsung normal karena dapat terjadi stroke. Artinya perfusi ke jaringan tetap diperhatikan. Diturunkan secara perlahan tidak boleh sekaligus.
Untuk hipertensi pada ibu yang akan hamil. Angiotensin II diperlukan untuk pembentukan sel karena itu ARB tidak boleh diberikan pada ibu hamil. Organ matang terbentuk pada paru-paru kehamilan tidak boleh diberikan.


Kunsantri Nurrobbbi, MD
Dapat direvisi kemudian

0 Komentar Anda: