Our social:

Selasa, 26 Maret 2013

Pendarahan Intrakranial Pada Bayi



Pentingnya injeksi vitamin K pada bayi baru lahir
Otak, Enchepalon, Sobotta
Pada 30-80 per 100.000 kelahiran bayi Asia Tenggara mengalami Kekurangan Protrombin Kompleks (APCD). 80% diantaranya menyebabkan perdarahan intrakranial (David Tandian, 2011). Pendarahan intrakranial  untuk para pembaca yang masih awam adalah diartikan sebagai pendarahan otak atau pendarahan di dalam otak. Melihat artikel dari buku “Sinopsis Ilmu Bedah Saraf” FKUI. Dalam salah satu artikel buku tersebut yang ditulis dr. David Tandian, Sp.BS (K), beliau membahas tentang salah satu penyebab dari perdarahan intrakranial pada bayi yang berasal dari defisiensi kompleks protrombin.

Saya tertarik untuk mencari informasi tentang hal ini. Dimana kita tahu pada bayi yang belum matang memiliki sistem pembekuan darah yang kompleks mudah terjadi perdarahan dimanapun tempatnya. Faktor-faktor inilah di dunia kedokteran modern diteliti dan hasil penelitannya ditemukan adanya daktor pembekuan yang berperan yaitu faktor komponen pembentuk trombin yang terdiri dari faktor II, VII, IX, X, dan mungkin daktor lain yang belum terpecahkan hingga kini.

Terinspirasi dengan hal diatas saya mencoba menuangkan hasil dari ringkasan yang saya temukan tentang faktor diatas. Untuk para pembaca awam saya akan mencoba membuat artikel ini dengan semudah mungkin kita pahami.

Baiklah kita mulai dari apa yang dimaksud dengan faktor pembekuan darah
Faktor pembekuan darah adalah suatu organisasi yang kompleks dari kumpulan sistem yang membuat darah akan bertahan dengan kekentalan yang sesuai dengan semestinya untuk beredar ke seluruh tubuh.  Fungsi darah yang utama adalah memberikan distribusi oksigen ke semua jaringan tubuh serta nutrisi yang cukup kepada organ vital termasuk jantung dan otak. Faktor pembekuan tidak semata-mata hanya dibentuk oleh suatu vitamin yang selama ini kita kenal dengan vitamin K. Namun mereka adalah sistem yang bekerja secara kompleks.
Mereka yang berperan sebagai faktor koagulan (faktor pembekuan);
1. I                    : Fibrinogen
2. II                   : Protrombin
3. III                  : Tromboplastin
4. IV                  : Ion Kalsium
5. V (VI)           : Proaselerin
6. VII                : Prokonvertin
7. VIII               : Globulin A Antihemofilik
8. IX                 : Globulin B Antihemofilik ( faktor chrismast )
9. X                  : faktor Stuart – Power
10. XI               : Plasma Thromboplastin – antecedent Factor(PTA, Faktor Rosenthal)
11. XII              : Fibrin Stabilizing Factor ( FSF, faktor laki-lorand)
12. XIII             : Faktor Trombosit 3 ( faktor pembeku 3)

Faktor-faktor pembekuan diatas diberi nama masing-masing oleh penemunya yang telah disepakati. Ada kemungkinan ditemukan lagi faktor-faktor baru selain diatas yang mungkin di masa depan akan diteliti kembali. Faktor II, VII, IX, X yang bertanggung jawab atas kurangnya sistem koagulasi yang terjadi pada bayi yang baru lahir sehingga terjadinya koagulitas yang tidak stabil.

Pada tahun 1929 seorang ahli biokimia Denmark bernama Henrick Dam menemukan vitamin K. Pada tahun itulah cikal bakal penemuan faktor-faktor pembekuan diatas. Pada dasarnya adalah seorang bayi yang belum matang sistem pembentuk vitamin K-nya rawan terjadi pendarahan intrakranial (pendarahan dalam otak), sehingga perlu diberikan vitamin K saat lahir. Hal ini diatur dalam Kepmenkes No. 1457/Menkes/SK/X/2003 yang diantaranya mewajibkan penyuntikan vitamin K saat bayi baru lahir.

Kandungan vitamin K dalam ASI
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Thailand oleh Pansatiankul B di Queen Sirikit National Institute of Child Health, Department of Medical Services, Thailand. Bahwa Idiopathic vitamin K deficiency in infancy or acquired prothrombin complex deficiency (APCD) atau penyakit yang tidak diketahui penyebabnya karena kekurangan vitamin K banyak menyebabkan kematian yang tinggi, namun berdasarkan penelitian itu pula disimpulkan bahwa Ibu yang pandai memberikan ASI pada bayinya akan menurunkan resiko terkena defisiensi vitamin K daripada yang tidak menyusui bayinya. 

Dapat dilakukan pendeteksian dengan pemeriksaan protrombin (PT), Parsial tromboplastin (PTT), dan masa trombin (TT). Pada Acquired Prothrombin Complex deficiency didapatkan sebagai berikut;


  1. PT                           : Memanjang
  2. PTT                         : Juga memanjang
  3. TT                           : Normal
  4. Trombosit                : Normal


Intracranial Hematom Pediatrics January 1, 2002 vol. 109
Dan untuk pemeriksaan tambahan perlunya gold standar yaitu CT-Scan untuk melihat perdarahan di mana saja di dalam otak. Jika menjadikan perlu dilakukan intervensi. Hendaknya segera dilakukan pembedahan atau pengeluaran massa perdarahan sesuai doktrin Monroe Kellie. Untuk saat ini angka konservatif atau tanpa pembedahan menurut sumber RSCM mencapai 30%, namun pada bayi yang dilakukan intervensi operatif hasilnya cukup baik yaitu 8% mortalitas. Semoga di tahun-tahun mendatang dapatlah semakin menurun angka mortalitas. Namun perlu diingat sequele yang dihasilkan apakah mempengaruhi kualitas bayi yang bersangkutan atau tidak. والله أعلمُ بالـصـواب.




Referensi
Boonchian Pansatiankul MD, Risk Factors of Acquired Prothrombin Complex Deficiency Syndrome: A Case-Control Study, J Med Assoc Thai Vol. 91 Suppl. 3 2008
FKUI, David Tandian, Sinopsis Ilmu Bedah Saraf, 2011, Jakarta: S. Agung Seto
Guyton, Arthur C. Hall, John E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC
Motohara K, Matsukura M, Matsuda I, Iribe K,Ikeda T, Kondo Y, et al. Severe vitamin K deficiency in breast-fed infants. J Pediatr 1984; 105: 943-5.
Grace, Pierce A., Neil R. Borley, 2002, Surgery at A Glance 2nd Edition, Blackwell Science, Blackwell Publishing Company


Kunsantri Nurrobbbi, dr. M.HI 
Dapat direvisi kemudian
Maret 2013

0 Komentar Anda: