Our social:

Latest Post

Minggu, 31 Maret 2013

Abstracts of the 2013 Annual Meeting of the AANS/CNS Section on Disorders of the Spine and Peripheral Nerves Phoenix, Arizona • March 6–9, 2013

Hasil dari  Annual Meeting Arizona tanggal 6-9 Maret 2013 Dipublikasikan dan dapat di download dengan gratis di website resmi JNS. Ada kurang lebih 171 Abstrak yang ditampilkan. salah satunya dengan judul "Predictors of Loss of Kyphotic Deformity Correction and Scoliosis after Anterolateral Vertebrectomy and Spinal Fusion for Thoracolumbar Burst Fractures".

 Berikut salah satu contohnya:

 Predictors of Loss of Kyphotic Deformity Correction and Scoliosis after Anterolateral Vertebrectomy and Spinal Fusion for Thoracolumbar Burst Fractures

Farhan Siddiq MD, Thomas A. Bergman MD (Hennepin County Medical Center), Walter Galicich MD, Christopher Daniel Roark MD (Neurosurgical Associates, LTD), Malik Adil, Kiersten Norby
 
Introduction: Anterolateral vertebrectomy and spinal fusion is a described treatment for burst fractures of the thoracolumbar junction. Controversy remains as to the best method of treating these difficult and highly unstable fractures.
Methods: Patients who underwent single stage anterolateral vertebrectomy and fusion for burst fractures of the thoracolumbar junction from January 2000 through April 2012 were identified from our institutional case log. Clinical and radiographic data were obtained from the hospital medical records. Scoliosis of greater than 5° at the time of final follow up was considered significant. Loss of kyphotic deformity correction by 5° at the time of final follow up was also considered significant.

Results: Ninety-six patients were followed for greater than one month, mean follow up was 6.6 (2-36) months. Forty-two patients (42.7%) had an expandable titanium cage graft and 54 (56.3%) had a bone strut graft. Five patients (5.2%) subsequently failed during follow up and required posterior instrumentation. Thirty-nine patients (40.6%) demonstrated scoliosis during follow up. Thirty-five (36.5%) had loss of kyphotic deformity correction by a mean of 10.0° (±3.6, Range: 5-20). In a univariate analysis, BS graft (p = 0.01), tilt in graft position (p = 0.005), end plate damage (p < 0.0001), and graft to endplate width ratio of =45% on AP x-ray (p = 0.02) were associated with loss of kyphotic deformity correction at follow up. Graft location towards the left of midline (p < 0.0001), tilt in graft position (p = 0.01), and end plate damage (p = 0.0001) were also associated with scoliosis at the time of final follow up.

Conclusion: Use of a bone strut graft, graft location, tilt in graft position, presence of end plate damage, and width of the graft on AP x-ray may be associated with loss of kyphotic deformity correction after single stage anterolateral vertebrectomy and spinal fusion. Graft location, tilt in graft position and presence of end plate damage may also be associated with post-operative scoliosis in these patients.

Hingga kini hasil penelitian yang dipublikasikan tersebut masih dalam proses editing. Semoga bermanfaat.
 
Kunsantri Nurrobbbi, MD 
Dapat direvisi kemudian

Sabtu, 30 Maret 2013

Arteriovenous malformation (Malformasi Arteri-Vena)

Merupakan hubungan antara arteri dan vena yang abnormal. Terbentuk dengan tidak normal hubungan tersebut sehingga aliran darah menjadi bertambah. Etiologi hingga saat ini masih belum diketahui meskipun beberapa ahli memberikan teori pembentukan disebabkan karena tekanan aliran yang meningkat terus-menerus. Pada bayi yang baru lahir terbentuknya malformasi tersebut dinamakan kongenital AVM.

AVM dapat terbentuk dimana saja di tempat pertemuan arteri dan vena tubuh. Yang paling sering menimbulkan gejala adalah di pembuluh darah otak, sehingga menimbulkan sakit kepala yang berlebihan dan terus-menerus. Tempat lain yang tersering adalah punggung yaitu tulang belakang.

Bilamana terjadi perdarahan
Yang paling ditakutkan adalah jika terjadi perdarahan di otak akan menyebabkan stroke. Menurut penelitian di otak terjadi AVM yaitu 1 diantara 200 hingga 500 orang. Dengan pria lebih banyak daripada wanita. Bila penderita AVM pernah mengalami pecahnya pembuluh darah tersebut, tercatat kemungkinan 20% pada tahun pertama akan mengalami perdarahan lain hampir 20%, dan bertahap berkurang menjadi sekitar 3-4% pada tahun berikutnya.

Bagaimana pemeriksaannya ?
Untuk mengetahui apakah ada AVM di otak dapat digunakan; CT-Scan dengan kontras atau CT scan dengan zat pewarna, MRI atau Magnetic Resonance Imaging yaang dijadikan MRA (Maagneting Resonance Angiography) berdasarkan gelombang elektromagnet yang disusun di layar komputer, serta untuk melihat AVM dapat pula digunakan Angiogram dengan menggunakan kateter kecil dari pangkal paha ke otak dan dilakukan pencitraan zat pewarna. Langkah angiogram ini memang paling sulit dilakukan namun hasil pencitraannya lebih akurat dibanding dengan cara yang lain.

Bagaimana untuk penderitanya ?
Pada prinsipnya tekanan darah harus normal atau sedikit lebih rendah untuk mencegah pecahnya AVM. Untuk penderita AVM disarankan untuk menghindari aktivitas berlebihan yang mampu memicu terjadinya peningkatan tekanan darah secara ekstrim, seperti menghindari stress, mengangkat beban terlalu berat, mengejan, dan aktivitas berat yang serupa. Penderita penyakit jantung yang dan kolesterol tinggi patut berhati-hati dengan obat-obatan yang dikonsumsinya seperti trombolisis (aspirin) ataupun warfarin, sehingga wajib kontrol secara teratur ke dokter yang bersangkutan.

Apakah pembedahan menjadi solusi ?
www.brain-aneurysm.com
Terjadi hal yang tak diinginkan. AVM di otak pecah saatnya evaluasi dilakukan, bila pecahnya vena atau arteri apau pembuluh darah tersebut dapat diatasi tanpa pembedahan maka cukup menunggu pembuluh darah itu menyatu kembali. Namun, harus diperhatikan pada saat pecahnya pembuluh darah tersebut darah akan menekan otak atau tidak. Bilamana lokasinya dapat dilakukan pembedahan maka keputusan dilakukan bedah harus dengan cepat dan pertimbangan yang matang. Seperti biasa pasien dibius hingga tidur dan tengkorak dibuka untuk dicari bagian mana yang pecah kemudian dilakukan evakuasi darah atau clot atau bekuan yang menghambat kemudian bilamana dapat dieksekusi maka AVM yang abnormal itu kemudian dilakukan teknik merusak AVM dan meningalkan pembuluh darah yang masih baik. Dewasa ini telah ditemukan cara-cara minimal invasive yang terus dikembangkan seperti Stereotactic radiosurgery dan Endovascular neurosurgery. Pada sterostatic dilakukan dengan merusak AVM dengan membekukannya. Dan pada endovascular atau interventional dilakukan penyumbatan denan lem jaringan atau adesif tisue, atau partikel yang mampu menghentikan aliran darah yang menuju AVM. Pertimbangan lain perlu diingat ukuran dan lokasi. Kadang kala gejala yang tidak muncul tidak memerlukan tindakan pembedahan, hanya kontrol secara terprogram pada dokter yang menanganinya.

Dokter Dale Ding dan para koleganya di Universitas Virginia memberikan analisis dari 444 pasien yang mendapatkan penanganan menggunakan sterotatic radiosurgery utnuk AVM tanpa didapatkan bukti adanya gejala hemorragic (perdarahan). Rata-rata berkisar antara 4,2 cm3 atau sekitar diameter 2 cm. Namun pada 14%-nya berada di lokasi otak bagian dalam. Mereka menemukan keadaan memburuk pasca intervensi bedah sebesar 7%.

Dan hingga saat ini pasien cenderung menginginkan dilakukannya intervensi bedah secepatnya sebelum terjadinya pecah AVM atau embolisasi.


Berikut kesimpulan dari penelitian Dokter Dale Ding dan kawan-kawan,

“Radiosurgery offers a reasonable benefit-to-risk profile for patients with unruptured AVMs. Until the AVMs were obliterated, the cohort of patients with unruptured AVMs demonstrated an annual hemorrhage rate comparable to traditionally quoted figures”. (D. Ding et al, 2013)

Pembedahan dengan Radiosurgery memberikan manfaat   untuk pasien dengan AVM yang belum ruptur. Hingga AVM mengalami obliterasi, pada kelompok pasien dengan unruptured AVM (AVM yang belum ruptur) menunjukkan tingkat perdarahan tahunan yang sebanding.

Referensi:
Ding D, Yen CP, Xu Z, Starke RM, Sheehan JP: Radiosurgery for patients with unruptured intracranial arteriovenous malformations. Clinical article. J Neurosurg[epub ahead of print March 26, 2013. DOI: 10.3171/2013.2.JNS121239]FKUI, 2011, Sinopsis Ilmu Bedah Saraf. Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM, Jakarta: CV. Sagung Seto 
Darmadipura, Prof. dr. H.M. Sajid, Sp.BS, 2008, Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Bedah Saraf, Rumah Sakit Umum dr. Soetomo Surabaya.  
Pierce A. Grace, 2006, at A Glance Ilmu Bedah Edisi Ketiga, Blackwell Publishing, translated by dr. Vidhia Umami, Jakarta; Penerbit Erlangga
R. Sjamsuhidajat & Wim de Jong, 2005, Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed. 2, Jakarta; EGC 
 Mardjono, Prof. DR., 2006, Neurologi Klinis Dasar, Jakarta; Dian Rakyat
Iskandar, Djunaidi, dr., 2011, Stroke Waspadai Ancamannya, Yogyakarta; Andi
Duus, Peter, 1996, Diagnosis Topik Neurologi: Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala, E/2, alih bahasa oleh dr. Devy H. Ronardy, Jakarta; EGC
Japardi, Iskandar, DR, dr, Sp.BS, 2004, Memahami Aspek-aspek Penting dalam Pengelolaan Penderita Cedera Kepala, Jakarta; PT. Bhuana Ilmu Populer 
Satyanegara, Prof. DR. dr., Sp.BS, 2010, Ilmu Bedah Saraf, Jakarta; Gramedia 

Kunsantri Nurrobbbi,dr
Dapat direvisi kemudian

Kamis, 28 Maret 2013

Minimally invasive treatment for intracerebral hemorrhage



Neurosurg Focus 32 (4):E3, 2012
Pendarahan Intrakranial Spontan menyumbang 10% hingga 15% dari stroke. Di Amerika Serikat 60 ribu hingga 120 ribu pasien mengalami stroke dengan perdarahan setiap tahun. Seiring meningkatnya populasi penderita dari usia tua.Rata-rata 20 % - 40 % dari mereka yang terkena ICH yang memiliki harapan fungisonal pada 6 bulan.Selain itu biaya yang dibutuhkan termasuk yang tertinggi dari seluruh gangguan otak. Setengah dari pasien ICH akan meninggal setelah mendapatkan perawatan yang mahal di ICU, dan selebihnya 30 % dapat bertahan dengan tanggungan yang membutuhkan perawatan jangka panjang dan rehabilitasi.

Beberapa studi telah melakukan minimal invasive untuk pendarahan intrakranial atau perdarahan di dalam otak selain perdarahan subdural, ekstradural, maupun epidural. Sebagaimana kita ketahui bersama mekanisme cedera yang terjadi dapat berupa fokal atau terlokalisir dan dapat pula bersifat difus atau menyebar sehingga CT-Scan merupakan gold standar dari pemeriksaan, sekaligus mengetahui lokasi yang semestinya.
 
Konservatif vs Invasif
Memutuskan untuk dilakukan tindakan operatif atau konservatif saja sangat sulit apalagi dengan dilakukannya minimal invasive pada pendarahan intracerebral. Kembali pada keputusan awal sesuai skala Glasgow yaitu dimulai sejak enam jam pasca resusitasi:
-          Cedera Otak Ringan (COR) : 13-15
-          Cedera Otak Sedang (COS) : 9-12
-          Cedera Otak Berat (COB) : 3-8
Kemudian dilakukan penilaian awal sesuai tingkat progresif yang agresif atau tidak. Pada prinsipnya adalah pentingnya sebuah observasi yang kompleks. Pada kasus cedera karena benturan spesifikasinya terjadinya intrakranial hematoma cenderung disebabkan gaya akselerasi dan deselerasi yang memecah arteri/vena cortikal dan subcortical dimana 20% ICH biasanya cenderung menyerang regio frontal dan temporalis. Karena hal inilah maka minimal invasive dapat terlokalisir melihat kecenderungan diatas.

Untuk menghindari TIK yang progresif dapat digunakan mannitol 0,25-1 gram/kgBB dibolus (>20menit) dilanjutkan dengan pemeliharaan 0,25 gram/KgBB per 6 jam. Modifikasi ketinggian kepala 30 derajat-45 derajat. Terutama Oksigen dipertahankan agar tidak terjadi hipoksia sehingga pada GCS kurang dari 8 hendaknya telah dilakukan intubasi. Pada saat terjadinya kejang dapat dilakukan profilaksis dengan fenitoin kurang lebih 100 mg iv pelan-pelan per 8 jam. Pada prinsipnya hipotensi tidak terjadi jika volume intravaskuler stabil, karena itu dapatlah dikontrol besarnya volume intravaskuler dengan balance cairan. Nutrisi dapat dipertimbangkan untuk menggunakan glukosa sesuai dengan kebutuhan kalori dengan memperhatikan osmolaritas tubuh. Tak lupa terus memantau fungsi ginjal dikarenakan penggunaan osmotik seperti mannitol. 

Kriteria dapat dilakukan minimal invasive
Kriteria untuk dilakukannya minimal invasive Surgical Evacuation with rtPA menurut Universitas Alabama Birmingham antara lain sebagai berikut;
Minimally Invasive Surgery plus rtPA for Intracerebral Hemorrhage Evacuation: MISTIE
Inclusion Criteria:
    - GCS < 14 or NIHSS > 6
    - Spontaneous supratentorial ICH with volume > 25 cc
    - Symptom onset < 2 hours prior to diagnostic computed tomography scan (CT)
    - Administration of initial rtPA dose within 54 hours of diagnostic CT Six-hour clot size equal to previous clot size + 5 cc
Perkembangan Terkini
Menurut Harrigan, dan UAB Neurologist dr. I. Ivan Lopez telah melakukan investigasi dengan minimal invasif dikombinasikan dengan recombinant tissue plasminogen activator (TPA) dengan dilakukannya evakuasi ICH (MISTIE). Digunakanlah navigasi dengan komputer untuk mengevacuasi clot-clot. Berikut pendapat dari dr. Harrigan: “A minimally invasive approach that will avoid extensive penetration of normal tissue and permit administration of thrombolytics offers the best chance of improvement for ICH patients”.

Jurnal Neurosurgery bulan April 2012 telah menerbitkan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim Bedah Syaraf mereka yang melakukan studi tentang minimal invasive dengan bantuan parmacological treatment. Digunakan teknik dengan memanfaatkan CT Scan untuk lokasi stereotactic mengevakuasi clot dengan mengadopsi hukum archimedes.

Cara melakukan evakuasi ICH dengan minimal invasive surgery
Dengan pengantar sistem stereotactic memakai  Leksell frame akurasi lebih terlihat pada lokalisi (clot) gumpalan. Jika hematoma yang akut bersifat padat, maka clot gumpalan akan menyumbat sistem drainase dan menjadi permasalahan selama ini.

Neurosurg Focus 32 (4):E3, 2012
Sebuah instrumen yang telah mengatasi masalah ini ditemukan oleh Backlund dan von Host, mereka mencoba sebuah perangkat untuk mengetahui lokalisasi dari clot tersebut menggunakan CT scan dengan perangkat stereotatic berdasarkan hukum Archimedes.

Neurosurg Focus 32 (4):E3, 2012
Mereka menggunakan kanul modifikasi dengan ultrasound dan berlubang-lubang. Dimana sebuah kanula akan berputar sekaligus menghisap sebuah gumpalan atau clot dengan berirama. Pada saat rongga terbentuk maka diinjeksikan sebuah urokinase tepat saat aspirasi dilakukan. Dengan endoskopi dan aspirasi bergantinan maka dapat digunakan bor tunggal yang menjadi kelebihan dari tindakan ini. Nizzuma dan Suzuki menjanjikan perbaikan dalam 6 bulan, dan sesuai penelitian mereka ada kecenderungan penurunan mortalitas yang baik. Namun, manfaat ini terbatas hanya pada pasien dengan hematoma lobaris yang usianya dibawah 60 tahun.

Urokinase dan Streptokinase merupakan agen terbaik untuk trombolisis hingga saat ini. Menurut Rohde et al, sebelumnya IVH dapat dibersihkan dahulu dengan rt-PA yang hingga kini masih belum dipublikasikan. Studi mereka meletakkan dasar-dasar minimal invasif untuk MISTIE studi yang hingga kini masih dalam perdebatan keras.

Banyak kalangan meragukan efektivitas dari minimal invasive dimana untuk intervensi seharusnya dilakukan segera peningkatan intrakranial berulang yang mencegah tamponade berulang. Sehingga pada dasarnya penggunaan trombolisis wajib digunakan untuk metode evakuasi bekuan (clot).

Kesimpulan dari hasil penelitian ahli Bedah Syaraf RS. John Hopkins yang dipimpin oleh Emun Abdu dan kawan-kawan di Maryland antara lain sebagai berikut;
  1. sejauh ini hasil dari evakuasi ICH mendapatkan respon yang baik dan aman. Sebuah studi dari CLEAR dan MISTIE mendukung pernyataan ini.
  2. Rata-rata clot lisis atau mengevakuasi bekuan dapat dilakukan kombinasi dengan farmasi (seperti Urokinase dan Streptokinase)
  3. Perlu penelitian lebih lanjut tentang efek mekanik dari USG menguntungkan atau merugikan dalam jangka panjang.
  4. Terus dilakukannya perancangan model kateter yang sesuai untuk digunakan dalam penyempurnaan teknik minimal invasif di masa mendatang.

Referensi:
  1. Abdu, Emun, MD and friends, 2012, Minimally invasive treatment for intracerebral hemorrhage, Department of Neurosurgery, Swedish Neuroscience Institute, Seattle, Washington; and 2Brain Injury Outcomes Center, The Johns Hopkins University School of Medicine, Baltimore, Maryland, Neurosurg Focus 32 (4):E3, 2012, Neurosurg Focus / Volume 32 / April 2012
  2. Intracerebral Hemorrhage Trial, 2013, Combines Minimally Invasive Surgical Evacuation With rtPA,  The University of Alabama at Birmingham, http://www.uabmedicine.org/newsroom/uab-insight-neurosciences-intracerebal-hemorrhage-trial#
  3. FKUI, 2011, Sinopsis Ilmu Bedah Saraf. Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM, Jakarta: CV. Sagung Seto
  4. Darmadipura, Prof. dr. H.M. Sajid, Sp.BS, 2008, Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Bedah Saraf, Rumah Sakit Umum dr. Soetomo Surabaya.
  5. Pierce A. Grace, 2006, at A Glance Ilmu Bedah Edisi Ketiga, Blackwell Publishing, translated by dr. Vidhia Umami, Jakarta; Penerbit Erlangga
  6. R. Sjamsuhidajat & Wim de Jong, 2005, Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed. 2, Jakarta; EGC
  7. Mardjono, Prof. DR., 2006, Neurologi Klinis Dasar, Jakarta; Dian Rakyat
  8. Iskandar, Djunaidi, dr., 2011, Stroke Waspadai Ancamannya, Yogyakarta; Andi
  9. Duus, Peter, 1996, Diagnosis Topik Neurologi: Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala, E/2, alih bahasa oleh dr. Devy H. Ronardy, Jakarta; EGC
  10. Japardi, Iskandar, DR, dr, Sp.BS, 2004, Memahami Aspek-aspek Penting dalam Pengelolaan Penderita Cedera Kepala, Jakarta; PT. Bhuana Ilmu Populer
  11. Satyanegara, Prof. DR. dr., Sp.BS, 2010, Ilmu Bedah Saraf, Jakarta; Gramedia





Kunsantri Nurrobbbi, MD 
Dapat direvisi kemudian