Our social:

Senin, 01 April 2013

Hydrocephalus (INA : Hidrosefalus)



Sobotta, Handatlas der Anatomie des Menschen
Dari segi bahasa berasal dari bahasa Yunani “hydros” berarti air dan “cephale” yang berarti kepala. Yang merupakan penumpukan cairan otak (cerebrospinal) di dalam ruang otak atau ventrikel. Terjadi pengumpulan di dalam ruang yang terjadi secara abnormal baik dari segi produksi cairan cerebrospinal yang berlebihan,  maupun dari segi hambatan dari ventrikel tersebut. Akibatnya terjadi dilatasi sistem ventrikel.

Daerah manakah yang berperan ?

Seorang ahli anatomi Skotlandia bernama Alexander Monroe (1733-1817) memberi nama suatu daerah kanal di otak yang diberi nama sebuah lubang dari namanya sendiri “foramen Monroe”. Kemudian lubang lain telah diberi nama sebelumnya oleh ahli anatomi yang berkebangsaan Belanda bernama Sylvius (1614-1672). Dua foramen lagi ditemukan oleh Francois Magendi (1783-1855) dan Hubert von Luschka (1820-1875)

Dalam perkembangan selanjutnya daerah-daerah tersebut ternyata merupakan suatu tempat yang harus diingat bagi dokter yang menangani Hidrosefalus. Pada dasarnya adalah di bawah ini ;
Sobotta, Handatlas der Anatomie des Menschen
  1. Cairan Serebrospinal diproduksi oleh pleksus koroideus dalam ventrikel otak
  2. Kemudian dialirkan melalui foramen Monroe menuju ventrikel III
  3. Kemudian melalui Aquaductus Sylvius menuju ventrikel IV
  4. Liquor kemudian mengalir melalui foramen Magendi dan foramen Luschka
  5. Menuju sisterna dan rongga subarachnoid cranial dan spinal
  6. Penyerapan terjadi melalui vilus arachnoid yang berhubungan dengan sistem vena seperti sinus venosus cerebral
Bilamana terjadi Hidrosefalus ?
  1. Terjadi gangguan sirkulasi liquor dalam sistem ventrikel
  2. Produksi cairan cerebrospinal yang berlebihan
  3. Pada jenis Hidrosefalus obstruktif atau nonkomunikans terjadi karena sirkulasi liquor otak yang terganggu, paling banyak karena stenosis aquoductus silvius, atresia foramen Magendi dan Luscha.
  4. Malformasi vaskuler
  5. Tumor (jarang)
  6. Pada Hdrosefalus komunikans banyak terjadi karena produksi cairan yang berlebihan atau gagal penyerapan.
  7. Beberapa literatur membagi Hidrosefalus dalam kelompok; kongenital didapat, internal-eksternal, hidrosefalus tekanan normal-ex vacuo (penyusutan jaringan otak), masing-masing merupakan tanda pengelompokkan untuk tindakan selanjutnya.
  8. Menurut Prof. Satyanegara terjadinya dilatasi ventrikel merupakan sebab akibat dari;
  9. Kompresi sistem cerebrovasculer
  10. Redistribusi dari liquor cerebrospinalis atau cairan ekstraseluler atau keduanya di dalam sistem saraf pusat
  11. Perubahan mekanis dari otak (peningkatan elastisitas otak, gangguan viscoelastisitas otak, kelainan turgor otak)
  12. Efek tekanan denyut liquor cerebrospinalis (masih dalam perdebatan keras)
  13. Hilangnya jaringan otak
  14. Pembesaran volume tengkorak (pada penderita muda) akibat adanya regangan abnormal pada sutura kranial.

Penyebabnya apa ?
Berdasarkan penelitian di USA sebesar 0,5-4 per 1.000 kelahiran hidup. Dapat pula terjadi bersama mielomeningokel (gangguan bawaan penyatuan spinal/tulang belakang) sebesar 80-85%. Di USA sendiri mencatat operasi sekitar 25.000-50.000 pertahun.  Pada dewasa sendiri terdapat angka 40% dari keseluruhan Hidrosefalus.
Teori-teori tentang terjadinya Hidrosefalus hingga kini masih dalam penelitian dan perdebatan, Prof. Satyanegara membaginya menjadi dua yaitu Prenatal (sebelum lahir), dan Postnatal (setelah lahir). Penyebabnya antara lain ;
  1. Idiopatik : Paling sulit karena ketika di kilas balik masih menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab hingga sebagian besar penderita memiliki etiologi yang tidak diketahui.
  2. Stenosis malformasi Aquaductus Sylvii (0,5-1 per 1.000 kelahiran) yang bukan dari tumor, memiliki tiga tipe; Gliosis aquaductus (pertumbuhan abnormal glia fiblier hingga lumen kontraksi), Garpu Aquaductus (berbentuk belahan-belahan/kanal-kanal tersumbat), Septum ependim yang membuat obstruksi (biasanya pada caudal dari aquaductus sylvii)
  3. Malformasi Dandy Walker 2-4% bayi baru lahir, hubungan dilatasi ventrtikel IV dengan rongga subarachnoid dengan etiologi yang tidak diketahui
  4. Malformasi Arnold Chiari (Tipe II), kelainan rumit pada fosa posterior, biasanya pada mielomeningokel.
  5. Lain-lain (jarang): agenesis foramen monroe, agenesis resorbsi liquor, dan sejumlah sindrom malformasi yang tanpa kelainan kromosom.

Kelainan bawaan dari Ibu yang harus dicegah antara lain ;
  1. Virus (seperti Rubela)
  2. Toksoplasmosis
  3. Sifilis
  4. Penyakit-penyakit sistemik lain
  5. Obat-obatan; Talidomid, LSD, Metotrexat, Anestetik
  6. Merokok
  7. Radiasi; Rontgen, Radioisotop
  8. Insufisiensi Diet

Mengukur lingkar kepala bayi
Pertumbuhan kepala bayi normal tercepat pada tiga bulan pertama dan bertambah kira-kira 2 cm tiap bulan. Dan pada tiga bulan berikutnya penambahan akan berlangsung lebih lambat. Dewasa ini telah dikeluarkan tabel pengukuran lingkar kepala dari pemerintah yang dapat dilihat dalam kartu menuju sehat (KMS).
Ukuran rata-rata sebagai berikut ;
1.       Lahir                      : 35 cm
2.       3 bulan                 : 41 cm
3.       6 bulan                 : 44 cm
4.       9 bulan                 : 46 cm
5.       12 bulan               : 47 cm
6.       18 bulan               : 48,5 cm

Bagaimana diagnosisnya ?
https://ufandshands.org
Untuk mengetahuinya dapat berdasarkan menutup atau belum menutupnya sutura kepala bayi. Berdasarkan bayi yang berusia dibawah dua tahun dapat terlihat kepala membesar, sutura melebar terutama fontanela mayor yang menonjol (frontal bossing), pada pemerikasaan mata terdapat sunset eye atau fenomena matahari terbit, pada saat dilakukan perkusi  seperti pot retak, dapat pula dilakukan penyinaran atau transluminasi yang memperlihatkan penyebaran cahaya di regio frontal 2,5 cm, dan regio oksipital 1 cm.
Pada anak yang suturanya telah menutup dapat terlihat tanda-tanda pendesakan seperti sakit kepala, mual-muntah, kejang, penurunan visus, gangguan fisik-mental, hingga penurunan kesadaran progresif. Jika normal pressure hydrocephalus dapat pula terjadi dementia atau terjadi pendarahan subarachnoid.
Untuk lebih lanjutnya dapat digunakan pemeriksaan penunjang seperti Foto tengkorak, USG, CT-Scan, MRI, hingga laboratories seperti melihat sel PMN, dan TORCH untuk mencari etiologinya. Dengan CT-Scan mudah sekali melihat secara akurat bentuk dari ukuran ventrikel normal dengan tanda pressure yang progresif, dimana ada indikasi dilakukannya tindakan.

MRI apakah perlu ?
Pada dasarnya CT-Scan sudah cukup akurat untuk mendeteksi adanya Hidrosefalus, namun dengan MRI dapat pula diketaui causatif terjadinya seperti memperlihatkan gambaran tumor atau gangguan vasculer dengan lebih mendetail. Dalam MRI juga dapat memperlihatkan membran ventricel dan aquaductus sylvii sehingga dapat dilanjutkan dengan endoskopi. Untuk masalah ekonomis sendiri karena biayanya cenderung mahal dan terkadang memerlukan anastesi untuk pembiusan tindakan MRI dapat dipertimbangkan untung dan ruginya.

Adakah obat-obatan yang dapat digunakan ?
Untuk memanipulasi produksi cairan cerebrospinal dengan jalan mengurangi sekresinya maka sasaran utamanya adalah memblok plexus choroid dengan Asetazolamid 100mg/kgBB/hari dan pengeluaran cairan dengan furosemid 1 mg/kgBB/hari. 

Untuk tindakan operasi, haruskah ?
http://www.oocities.org
Obat-obatan yang digunakan hanya bersifat sementara hingga menunggu penderita siap untuk dioperasi sehingga tindakan operatif berupa drainase liquor. Drainase berupa pemasangan jalan keluar cairan liquor tadi ke tempat tertentu. Pada saat darurat dapat digunakan eksternal atau jalan keluar di luar dengan kantong drain keluar hanya saja resiko kontaminasi sangat berbahaya. Namun pada saat terjadinya potensi tension atau mengalami infeksi maka mutlak terpaksa harus dilakukan. Ada sekitar 21 cara untuk melakukan shunting atau bypass dari jalan keluar cairan ini yang mungkin akan dibahas di lain kesempatan.
Pemasangan pintasan tersering dilakukan dari ventrikel otak di alirkan dengan selang silikon khusus ke atrium jantung kanan, atau dapat dialirkan menuju rongga peritonium. Namun, pemasangan ini memiliki angka penyulit yang cukup tinggi yaitu 40-50%, terutama infeksi, obstruksi, dan dislokasi.

Untuk Hidrosefalus normotensif (dengan tekanan kepala normal) harus operasi ?
Pada prinsipnya seluruh hidrosefalus pasti menimbulkan penekanan baik sifatnya hilang timbul maupun progresif. Bilamana didapatkan trias seperti gangguan berjalan, demensia, dan inkontinensia urine, maka pertimbangan dilakukan tindakan bedah untuk shunting (memberi jalan keluar cairan) harus dipikirkan kembali.

Referensi:

  1. Wellons III, John C, MD et Al, 2013, The assessment of bulging fontanel and splitting of sutures in premature infants: an interrater reliability study by the Hydrocephalus Clinical Research Network: Clinical article, Journal of Neurosurgery: Pediatrics Jan 2013 / Vol. 11 / No. 1, Pages 12-14
  2. Tamara D. Simon, M.D., M.S.P.H, et Al, 2012, Hospital care for children with hydrocephalus in the United States: utilization, charges, comorbidities, and deaths, Collections, May 2012, Volume 116, Issue 5, Journal of Neurosurgery: Pediatrics Feb 2008 / Vol. 1 / No. 2, Pages 131-137.
  3. Program for the 2013 Annual Meeting of The American Society of Pediatric Neurosurgeons, Journal of Neurosurgery: Pediatrics Mar 2013 / Vol. 11 / No. 3, Pages A359-A362
  4. John C. Wellons III, M.D., M.S.P.H., et Al, 2013, The assessment of bulging fontanel and splitting of sutures in premature infants: an interrater reliability study by the Hydrocephalus, Clinical Research Network: Clinical article,Journal of Neurosurgery: Pediatrics Jan 2013 / Vol. 11 / No. 1, Pages 12-14.
  5. John R. W. Kestle, M.D, 2012, Collection: Treatment of Hydrocephalus Since 1970, Collections May 2012 / Vol. 116 / No. 5, Pages 1-1.
  6. FKUI, 2011, Sinopsis Ilmu Bedah Saraf. Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM, Jakarta: CV. Sagung Seto
  7. Darmadipura, Prof. dr. H.M. Sajid, Sp.BS, 2008, Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Bedah Saraf, Rumah Sakit Umum dr. Soetomo Surabaya.
  8. Pierce A. Grace, 2006, at A Glance Ilmu Bedah Edisi Ketiga, Blackwell Publishing, translated by dr. Vidhia Umami, Jakarta; Penerbit Erlangga
  9. R. Sjamsuhidajat & Wim de Jong, 2005, Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed. 2, Jakarta; EGC
  10. Mardjono, Prof. DR., 2006, Neurologi Klinis Dasar, Jakarta; Dian Rakyat
  11. Iskandar, Djunaidi, dr., 2011, Stroke Waspadai Ancamannya, Yogyakarta; Andi
  12. Duus, Peter, 1996, Diagnosis Topik Neurologi: Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala, E/2, alih bahasa oleh dr. Devy H. Ronardy, Jakarta; EGC
  13. Japardi, Iskandar, DR, dr, Sp.BS, 2004, Memahami Aspek-aspek Penting dalam Pengelolaan Penderita Cedera Kepala, Jakarta; PT. Bhuana Ilmu Populer
  14. Satyanegara, Prof. DR. dr., Sp.BS, 2010, Ilmu Bedah Saraf, Jakarta; Gramedia
Kunsantri Nurrobbbi, MD 
Dapat direvisi kemudian

0 Komentar Anda: