Our social:

Sabtu, 13 April 2013

Manajemen Hemoptoe dalam Tuberculosis

The Management of Hemoptysis on Tuberculosis
Disampaikan oleh dokter ahli paru Bapak Arifin Nawas yang menjelaskan tentang tuberculosis primer. Pada orang dewasa terjadi pada penurunan daya tahan tubuh dari immunocompromied seperti HIV, diabites ataupun malnutrisi. Pada TB post primer berasal dari TB kronis atau penyakit post TB primer.

Diawali TB fokus primer yang menjadikan sarang dorman. Penyebaran mengenai segmen superior lobus atau juga sering terlihat. Infiltrat halus hingga menimbulkan kavitas. Jika ada cairan yang nekrosis tersebar dengan lokasi dan menyebar keseluruh tubuh menjadi fibrotik dan berkembang menyebar kesegala tempat. TB endobronkial menjadi gejala endobronkial yang menyebabkannya. Menimbulkan batuk darah dapat diberikan tanda progresif. Hal ini disampaikan oleh Pelantikan Pengurus PDPI Cabang Kalimantan Timur Masa Bakti 2013 – 2016 dan Simposium “UPDATE OF RESPIRATORY EMERGENCIES MANAGEMENT” Hotel Grand Jatra Balikpapan, Minggu 14 April 2013.

Hemoptsisi masif terjadi bila dikeluarkan 100-600 ml dalam 24 jam. Ringan adalah kurang dari 20 ml/24 jam. Masif dapat 5% dari hemoptisis biasa. Namun angka kematian hingga 80% sehingga harus dirawat secara teliti. Apabila hemoptisis terjadi leboh dari 600 ml/24 jam masih berlangsung maka diperiksa Hb dan berhati hati bila kurang dari 10 g %. Asal yang paling terlihat adalah arteri atau vena yang menjadi pecah. Penyebabnya adalah 90 % karena tuberculosis.  Pada TB kavitas aktif atau pada kavitas menjadi sedikit atau tanpa kavitas. Biasanya pasien dengan sputum BTA positif akan memberikan keluhan batuk  darah. TB yang tidak aktif akan memberikan komplikasi sehingga sumber pendarahan berasal dari sirkulasi tersebut yang potensial. Evaluasi dari batuk darah yang tidak masif. Biasanya karena terjadinya asam lambung yang berwarna tidak segar.

Proteksi saluran nafas yang baik. Dapat dilakukan intubasi sehingga gangguan hemodinamik pada analisa gas darah yang mempengaruhi kebutuhan oksigen jaringan. Melindungi paru-paru lain yang sehat bila salah satunya sehat sehingga sumber perdarahan itu tahu dimana tempatnya. Sehingga memerlukan ahli bedah lanjutan untuk bedah thoraks. Letakkkanlah pasien dalam posisi yang miring dimana posisi paru yang sakit sehingga tidak terkena. Untuk ahli paru yang berpengalaman dapat berkolaborasi dengan ahli radiologi intervensi.



Kunsantri Nurrobbbi, MD
Dapat direvisi kemudian

0 Komentar Anda: